Akal vs Wahyu

Ada seorang laki-laki yang tersandung dan terjatuh ke dalam sebuah sumur. Untungnya dia sempat meraih sebuah akar yg kuat sehingga menghentikan jatuhnya.
Semakin lama, pegangannya semakin lemah dan dalam keputusasaannya dia berteriak, “Apakah ada orang di atas sana?”
Tiba-tiba sebuah sinar menerobos ke bawah meneranginya. Terdengar suara dari atas, “Saya, Tuhan, ada di sini. Lepaskan akarnya, dan saya akan menolongmu!”.
Laki-laki itu berpikir sejenak dan kemudian berteriak, “Adakah orang lain di atas sana?”.

Etika dan Hukum Ilahi

Malam ini saya membaca buku pengantar filsafat. Pada bab Etika, ketika membahas tentang bagaimana hukum Ilahi menyederhanakan etika. Muncul pertanyaan, bagaimana kita yakin bahwa yang tertulis di kitab suci secara harfiah (tekstual) adalah maksud Tuhan yang sebenarnya?

Saya langsung teringat kisah yang sering dikhutbahkan ketika hari Kurban. Tentang bagaimana Nabi Ibrahim as mendapatkan perintah dari Tuhan lewat mimpinya untuk menyembelih anak kesayangannya Ismail as atau dilain versi Ishaq as. Perintah ini walaupun secara etika tidak masuk akal dan terkesan ‘gila’ karena merampas hak hidup, Ibrahim walaupun berat hati tetap melaksanakannya. Tindakan Ibrahim ini adalah bukti bahwa ketaatannya kepada Tuhan lebih besar daripada kasih sayangnya kepada anak. Kemudian ternyata, Tuhan menggantikan kurbannya dengan seekor domba.
Nah, ada yang menarik. Saya pernah baca bahwa Ibnu Arabi -seorang filsuf dan sufi besar berpendapat bahwa seandainya Ibrahim as melakukan takwil atas mimpinya, dia bisa menangkap pesan metaforis dari Tuhan bukannya arti harfiahnya, maka perintah ini tidak akan berat dan berkesan seolah melanggengkan tradisi pagan yang mengurbankan jiwa manusia.

Wallahu A’lam Bishawab.

Mencari Hakikat Penciptaan

Sebagai manusia dan tentunya sebagai seorang theist. Saya selalu selalu mencari jawaban tentang tujuan penciptaan, juga tentang hubungan antara Sang Pencipta dan Ciptaan-Nya. Apakah Tuhan hanya hanya dipandang sebagai dzat yang transendent-yang terpisah dari makhluknya atau Tuhan selalu menampakan bayangan-Nya dibalik ciptaan-Nya.

Dalam sebuah hadist Qudsi yang kira-kira redaksinya seperti ini: Tuhan berkata bahwa Dia adalah perbendaharaan yang tersembunyi, yang rindu untuk di kenal maka Dia menciptakan makhluk. Begitupun firmannya dalam kitab suci: Aku lebih dekat daripada urat nadi kalian sendiri.

Bukankah Tuhan tidak butuh makhluknya? Terus buat apa Dia mencipta? Apalah artinya kedermawanan tanpa si miskin kata Rumi sang sufi penyair itu. Mungkin begitupun dengan Tuhan, dia dengan ‘kesadaran’ memahmi bahwa sifat-sifat agung-Nya hanya akan bisa termanifestasi jika ada object penerima. Maka, menciptalah Dia.

Jika membahas keberadaan dzat-Nya, esensi diri-Nya. Tentulah nalar kemanusiaan kita tak sanggup sampai kesana. Dzatnya adalah mutlak, gaib di atas gaib, misteri di atas misteri. Dengan Kasih Sayang-Nya, kemudian Dia sendirilah yang akhirnya memperkenalkan diri lewat sifat-sifatNya (kita menyebutnya sebagai Ilahi atau Allah) atau dengan perbuatanNya (kita menyebut-Nya Tuhan atau Rabb).

Beberapa orang menemukan Dia lewat fenomena ciptaan-Nya, lewat hukum-hukum alam yang dibuat-Nya begitu kompleks, rumit tapi berpola.

Beberapa lagi ketika dalam keadaan fana, menemukan bahwa hanya Dia lah sebenarnya yang tampak dan yang lain hanyalah memantulkan bayangan-Nya. Sehingga ketika kembali dari fana, bagi mereka, realitas yang tampak hanyalah semu belaka. Ada juga golongan yang berpendapat bahwa memang benar bahwa ciptaan-Nya memantulkan bayangan diri-Nya tapi mengingkari keberadaan object pemantul itu sendiri adalah kesalahan. Bagi golongan ini Dia dan ciptaan-Nya saling memantulkan.

Kalau ibarat cahaya, Dia memancarkan sinarnya keseluruh semesta dan seluruh ciptaanNya meneriman cahaya tersebut sesuai dengan jarak kepada-Nya. Semakin dekat semakin terang, semakin jauh semakin gelap. Tak ada gelap, yang ada hanya tak sempurnanya kehadiran-Nya.

Tugas kita sebagai manusia, makhluk yang paling sempurna memantulkan dan menyerap seluruh sifat-sifatNya adalah berakhlak dengan akhlak-Nya. Kata Ibnu Arabi bukan posisi manusia untuk menanamkan sifat-sifat Tuhan itu kedalam dirinya, karena sebenarnya dalam dirinya sudah ada potensi sifat-sifat Tuhan ketika Tuhan meniupkan ruh kepadanya.

Sarung

Menurut catatan sejarah, sarung berasal dari Yaman. Di negeri itu sarung biasa disebut futah. Sarung juga dikenal dengan nama izaar, wazaar atau ma’awis.Masyarakat di negara Oman menyebut sarung dengan nama wizaar. Orang Arab Saudi mengenalnya dengan nama izaar.

Penggunaan sarung telah meluas, tak hanya di Semenanjung Arab, namun juga mencapai Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika dan Eropa. Sarung pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke 14, dibawa oleh para saudagar Arab dan Gujarat. Dalam perkembangan berikutnya, sarung di Indonesia identik dengan kebudayaan Islam.

Saya sangat suka menggunakan sarung, kain yang mampu menghangatkan dari udara dingin tapi tidak bikin gerah dikala panas.

Di kampung saya di Mandar sana kami punya banyak stok sarung untuk  bermacam keperluan. Sejak kami lahir kami sudah dibungkus pakai sarung, ayunan bayi pun menggunakan sarung. Mandi sebagai pengganti handuk, kami pakai menggunakan sarung walaupun jadinya lebih lama kering di banding handuk. Apalagi buat tidur, ampuh untuk melindungi dari nyamuk dan dinginnya malam.  Ke masjid tak afdhol kalau tidak pakai sarung. Ke acara yang formal seperti ke kondangan pun pakai sarung. Bahkan orang meninggal dialasi sarung sembari didoakan oleh orang yang datang melayat.