Sarung

Menurut catatan sejarah, sarung berasal dari Yaman. Di negeri itu sarung biasa disebut futah. Sarung juga dikenal dengan nama izaar, wazaar atau ma’awis.Masyarakat di negara Oman menyebut sarung dengan nama wizaar. Orang Arab Saudi mengenalnya dengan nama izaar.

Penggunaan sarung telah meluas, tak hanya di Semenanjung Arab, namun juga mencapai Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika dan Eropa. Sarung pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke 14, dibawa oleh para saudagar Arab dan Gujarat. Dalam perkembangan berikutnya, sarung di Indonesia identik dengan kebudayaan Islam.

Saya sangat suka menggunakan sarung, kain yang mampu menghangatkan dari udara dingin tapi tidak bikin gerah dikala panas.

Di kampung saya di Mandar sana kami punya banyak stok sarung untuk  bermacam keperluan. Sejak kami lahir kami sudah dibungkus pakai sarung, ayunan bayi pun menggunakan sarung. Mandi sebagai pengganti handuk, kami pakai menggunakan sarung walaupun jadinya lebih lama kering di banding handuk. Apalagi buat tidur, ampuh untuk melindungi dari nyamuk dan dinginnya malam.  Ke masjid tak afdhol kalau tidak pakai sarung. Ke acara yang formal seperti ke kondangan pun pakai sarung. Bahkan orang meninggal dialasi sarung sembari didoakan oleh orang yang datang melayat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s