Etika dan Hukum Ilahi

Malam ini saya membaca buku pengantar filsafat. Pada bab Etika, ketika membahas tentang bagaimana hukum Ilahi menyederhanakan etika. Muncul pertanyaan, bagaimana kita yakin bahwa yang tertulis di kitab suci secara harfiah (tekstual) adalah maksud Tuhan yang sebenarnya?

Saya langsung teringat kisah yang sering dikhutbahkan ketika hari Kurban. Tentang bagaimana Nabi Ibrahim as mendapatkan perintah dari Tuhan lewat mimpinya untuk menyembelih anak kesayangannya Ismail as atau dilain versi Ishaq as. Perintah ini walaupun secara etika tidak masuk akal dan terkesan ‘gila’ karena merampas hak hidup, Ibrahim walaupun berat hati tetap melaksanakannya. Tindakan Ibrahim ini adalah bukti bahwa ketaatannya kepada Tuhan lebih besar daripada kasih sayangnya kepada anak. Kemudian ternyata, Tuhan menggantikan kurbannya dengan seekor domba.
Nah, ada yang menarik. Saya pernah baca bahwa Ibnu Arabi -seorang filsuf dan sufi besar berpendapat bahwa seandainya Ibrahim as melakukan takwil atas mimpinya, dia bisa menangkap pesan metaforis dari Tuhan bukannya arti harfiahnya, maka perintah ini tidak akan berat dan berkesan seolah melanggengkan tradisi pagan yang mengurbankan jiwa manusia.

Wallahu A’lam Bishawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s